Jakarta, – Ketua Umum Perempuan Tani (PT HKTI) Dian Novita Susanto meminta pemerintah untuk konsisten agar tidak melakukan impor beras pada 2020 mendatang.
Hal ini berangkat dari pernyataan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) yang menjamin ketersediaan pangan nasional aman hingga Maret 2020.
“Surplus hingga 4 juta ton beras itu suatu prestasi menurut saya. Tugas penting selanjutnya adalah menjaga ketersediaan stok tersebut. Jangan sampai ada kebijakan impor karena stok sudah surplus,” tegas Dian di Jakarta,Kamis, (18/12).
Dian berangkat dari kasus impor beras pada 2018 lalu. Meski ditolak oleh Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) tetap memberikan izin impor beras yakni 500 ribu ton sebanyak dua kali pada Januari dan Maret 2018, dan satu juta ton pada April 2018.
Menurut Dian, semua stake holder harus bisa bersinergi agar tetap konsisten dalam menolak impor pangan. Lain soal kalau stok beras memang kurang dan harga di pasaran melambung tinggi maka kebijakan impor tetap harus dilakukan.
“Kalau stok masih aman apalagi surplus ya tidak boleh impor. Ujung-ujungnya akan berimbas pada petani, karena kerja keras mereka tidak berbanding lurus dengan harga jual beras,” tegas Dian.
Mentan SYL sebelumnya memastikan, letersediaan pangan untuk konsumsi nasional hingga Maret 2020 aman. Bahkan, terdapat surplus hingga 4 juta ton. Hal ini juga sudah disampaikan SYL langsung ke Presiden Joko Widodo (Jokowi).
“Kami menjamin makan kita sampai Maret aman. Memang kemarau panjang November hingga awal Desember ada minus, namun masuk Desember hingga Maret kita akan over stock 4 juta ton,” kata SYL di sela acara
pencanangan Gerakan Agripreneur dan Tiga Kali Lipat Ekspor di Monumen Mandala, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu kemarin.